Monday, July 4, 2016

Bagaimana bercinta dengan Allah?



“Bagaimana bercinta dengan Allah?”
Hanya yang mengenal Allah, akan mencintaiNya. Dan hanya yang mengenal hakikat diri, akan mengenal Tuhannya.
Lalu, tanya kepada hati. Hidup ini sebagai manusia yang ada tujuan, atau hidup hanya kerana orang lain juga hidup? Hidup dengan prinsip bertuhan, atau hidup mengikut angan-angan yang memusnahkan? Hidup dengan mengenal hakikat penciptaan, atau hanya mengenal setiap inci tubuh badan?


" من عرف نفسه فقد عرف ربه "
Ini yang Nabi ajar.
“Sesiapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya”

Mana mungkin kita tidak ada ikatan dengan Pencipta? Walaupun sesudah proses penciptaan, kita tetap ada hubungan dengan Tuhan.
Analogi mudah, sebuah mesin dicipta. Kemudian mesin itu dibeli, dan berfungsi setiap hari. Hingga suatu masa, mesin itu rosak. Kemudian apa yang dilakukan oleh yang membeli mesin itu tadi? Sudah tentu, akan dikembalikan kepada yang mencipta mesin untuk diperbaiki.

Begitu juga manusia. Sehebat mana kita, setinggi mana pun kita daki, sejauh mana pun kita pergi. Kita akan tetap kembali. Kerana itu, biarlah hidup kita hidup yang sedar diri. Hidup dalam cinta Pencipta. Kerana kita ingin kembali menemui kasih yang dicintai, bukan sebagai hamba yang dimurkai.


Maka bercintalah!
Dengan Tuhanmu

Bercintalah!
Dengan Rasulmu, Agamamu, Orang tuamu, Keluarga dan temanmu.

Bercintalah!
Dengan seluruh makhluk alam.

                                                                                 Bercintalah!                             
Mengikut aturannya.

Bercintalah!
Untuk mendapat cintaNya.

Maka bercintalah!
Pelihara cinta pertama mu.
Kerna apabila cinta dengan Tuhan bermasalah, dan masih rasa selesa..

Itulah masalah cinta yang paling berat!



Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:


سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ اِلاَّظِلُّهُ: اِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ اللهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ اِذَاخَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ اِلَيْهِ وَرَجُلاَنِ تَحَاباَّ فِى اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَافْتَرَقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ فِى خَلْوَةٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتَ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ اِلَى نَفْسِهَا فَقَالَ اِنِّى أَخَافُ اللهَ رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yaitu keduanya berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah di tempat yang sunyi lalu kedua matanya meneteskan air mata, seorang laki-laki yang diajak oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan yang tinggi lagi cantik untuk menggaulinya tubuhnya, maka ia berkata: sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam dan seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia merahasiakannya sehinggi tangan kirinya tidak tahu apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya

(HR. Bukhari dan Muslim).


-Nur-
BARAKALLAHU LANA :)